Belajar Bahasa Jepang Lewat Nodame Cantabile

Kesusastraan Jepang

Karena saya sekarang lagi kuliah lagi mengambil sastra Jepang, kebetulan dapat mata kuliah Kesusastraan Jepang, jadi sekalian saya tulis aja di blog belajar bahasa Jepang ini, sekalian untuk mengingat apa yang diberikan oleh dosen dan juga untuk kita mengetahui juga mengenai perkembangan bahasa Jepang itu seperti apa dari awalnya.


Kesusastraan Di Jepang

Nah mempelajari mengenai kesusastraan Jepang, jujur saya jadi tahu mengenai misalnya, sejarah mengenai tulisan Kanji. Yang ternyata memang pada awalnya bangsa Jepang itu tidak mempunyai tulisan mereka sendiri. Mereka mencoba mengimport dari kebudayaan Cina, dimana mereka mengirimkan dua utusannya sebanyak 20 kali ke Cina untuk mempelajari kebudayaan Cina dan mengaplikasikannya di Jepang.

Ternyata dari hal ini yang paling memberi pengaruh untuk kesusastraan Jepang dan juga di dalam bahasanya adalah tulisan Kanji. Jadi memang sejarahnya Kanji itu berasal dari Cina, kemudian dua utusan dari Jepang yaitu Kenzuishi dan Kentooshi itu kemudian mempelajari Kanji yang kemudian mereka gunakan untuk mulai menuliskan cerita-cerita rakyat yang berkembang.

Untuk tahu mengenai hal ini, ada dua buku yang bisa dibaca, yaitu buku Sejarah Kesusastraan Jepang yang ditulis oleh Isoji Asoo dkk, yang kita bisa lihat wujud bukunya seperti terlihat di gambar di bawah ini,

Kesusastraan Jepang

Buku ini sebenarnya merupakan terjemahan dari buku aslinya yaitu Nihon Bungakushi, yang mana buku ini diterjemahkan oleh Staf Pengajar dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Di buku ini, dipaparkan sejarah kesusastraan Jepang itu seperti apa. Dari sini saya jadi banyak belajar juga, misalnya mengenai sejarah tulisan Kanji tersebut saya jadi tahu.

Kemudian buku kedua yang dipake di mata kuliah kesusastraan Jepang ini adalah buku Pengantar Kesusastraan Jepang oleh Darsimah Mandah, yang wujudnya bisa kita lihat pada gambar di bawah ini,

Pengantar Kesusastraan Jepang

Kalau buku yang kedua ini adalah bukan terjemahan tapi asli tulisan dari Darsimah Mandah, yang juga adalah pengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Juga barusan saya browsing dari internet dan menemukan website yang membahas mengenai Japanese Literature, silakan aja diklik di tulisan yang berwarna biru.

Jujur buat saya membaca buku yang terjemahan itu entah kenapa membuat saya bingung. Kalau buku yang kedua Pengantar Kesusastraan Jepang, lebih mendingan ketimbang buku yang pertama, lebih bisa dicerna. Entah kenapa menurut saya, kurang terstruktur dengan baik sehingga cukup membingungkan kita sebagai pembaca yang awam. Kecuali mungkin memang teman-teman sudah pernah belajar mengenai bahasa Jepang atau sudah mengerti tulisan Kanji atau sejarah Jepang, mungkin tidak akan bingung membaca kedua buku tersebut. Tapi kalau baru saja belajar, jujur saya merasakan kebingungan yang luar biasa dari cara menjelaskan yang ada di buku tersebut.

Atau bisa juga teman-teman melihat slide share ini, dimana slide share itu menggambarkan secara singkat mengenai kesusastraan Jepang. Ada buku lagi yang seperti bagus untuk dibaca kalau memang teman-teman senang dengan kesusastraan Jepang dan sejarahnya, yaitu buku bahasa Inggris yang judulnya "A History of Japanese Literature" oleh W.G Aston. Yang wujud bukunya seperti apa bisa kita lihat pada gambar di bawah ini,

Sejarah Sastra Jepang Bahasa Inggris

Nanti saya akan coba membahas lebih jauh lagi, karena berhubung besok itu adalah mid test mata kuliah ini, jadi saya coba saja menuliskan ulang karena untuk menghafal semuanya jujur butuh waktu tentunya.


Cikal Bakal Kesusastraan Jepang

Cikal bakal kesusastraan Jepang itu berasal dari upacara ritual magis. Jadi mereka ini biasanya mengadakan upacara setelah mereka panen. Bangsa Jepang ini terkenal dengan bangsa petani pada zaman dahulu. Mereka bercocok tanam, dan kemudian ketika mereka panen, mereka melakukan upacara ritual, sebagai rasa terima kasih atas panen mereka yang sudah berhasil, dan bersyukur juga meminta agar panen selanjutnya bisa bagus juga, terhindar dari segala keburukan.

Ketika mereka melakukan upacara, mereka menggunakan bahasa tersendiri, bahasa yang tidak mereka gunakan ketika mereka berkomunikasi setiap harinya. Jadi bahasanya berbeda, bahasa yang berbeda ini dikarenakan mereka menganggap penting untuk penyembahan dan ritual ini, sehingga mereka menggunakan bahasa khusus yang disebut dengan istilah bahasa hare no kotoba.

Upacara mereka itu menggunakan tindakan dan bahasa, dimana bahasa yang mereka gunakan ini menjadi semacam nyanyian atau puisi. Dan tindakannya menjadi semacam tarian. Dari sinilah awal dan cikal bakal dari kesusastraan Jepang.


Pembagian Zaman Kesusastraan Jepang

Kesusastraan Jepang itu dibagi menjadi beberapa zaman, yaitu:
  1. Kesusastraan Zaman Joodai – Kuno 645-793 (Zaman Nara)
  2. Kesusastraan Klasik (794-1186) (Zaman Heian)
  3. Kesusastraan Zaman Pertengahan (1186-1603) (Zaman Kamakura - Muromachi)
  4. Kesusastraan Pra Moden (1603-1868) (Zaman Edo)
  5. Kesusastraan Modern (1868-1945) (Zaman Meiji - Taisho)
  6. Gendai Showa - Heisei
Kita bahas satu per satu dulu ya, dimulai dengan kesusastraan Zaman Joodai.


Kesusastraan Zaman Joodai

Kesusastraan zaman Joodai ini tidak diketahui mulainya kapan tapi berakhirnya adalah setelah ibukota pemerintahan Jepang pindah ke Heian pada tahun 794. Kesusastraan zaman Joodai ini dikenal juga dengan sebutan kesusastraan Zaman Yamato karena saat itu kegiatan kebudayaan, politik dan pemerintahan berpusat di Yamato.

Kesusastraan zaman Joodai ini juga disebut sebagai Kooshoo Bungaku atau kata lainnya adalah kesusastraan lisan, dimana di zaman ini, saat itu bangsa Jepang belum mempunyai sistem penulisan. Jadi ini hanya bentuknya dari mulut ke mulut saja, dan belum ditulis, karena sistem penulisannya juga belum ada.

Karena saat itu belum dituliskan maka dari itu sifat dari kesusastraan zaman Joodai ini adalah tidak stabil dan berubah-ubah. Lalu kemudian masuk zaman Nara, dimana di zaman ini mulai dikirimkan dua utusan ke Cina, sebanyak 20 kali untuk mempelajari kebudayaan Cina. Tujuan awalnya adalah untuk mengimport budaya Cina, namun kemudian yang paling terbesar dan memberi pengaruh buat masyarakat Jepang adalah tulisan Kanji. Karena dengan mereka mempelajari juga tulisan Kanji ini, sekarang mereka sudah bisa menuliskan karya-karya atau cerita-cerita yang ada di masyarakat.

Dua utusan yang dikirimkan ke Cina untuk mempelajari budaya Cina dan juga mempelajari tulisan Kanji adalah Kentooshi dan Kenzuishi. Setelah mereka menguasai penulisan Kanji tersebut kemudian tugas mereka adalah mulai menuliskan cerita yang ada di masyarakat.

Karya sastra yang termasuk pertama yang dituliskan itu adalah Kojiki, Nihonshoki dan Fudoki. Kojiki ini terdiri dari 3 jilid, yaitu bagian permulaan, tengah dan akhir. Kojiki ini ditulis oleh Oo no Yasumaro dari cerita yang disampaikan oleh Hieda no Are pada tahun ke-5 pemerintahan kaisar Wadoo (712). Buku Kojiki dan Nihonshoki ini ditulis berdasarkan perintah dari Kaisar Tenmu (673-686).

Sementara Nihonshoki itu terdiri dari 30 jilid. Nihonshoki ini ditulis dengan menggunakan huruf Kanji, isi dari Nihonshoki ini lebih objektif sementara isi dari Kojiki lebih bersifat subyektif. Kojiki dan Nihonshoki atau disebut dengan mitologi Kiki ini bercerita mengenai asal usul alam semesta, terjadinya daratan, lahirnya dewa dewi, terjadinya negara Jepang dan keagungan keluarga Kaisar.

Nah nanti kita lanjut lagi ya membahas mengenai kesusastraan Jepang, saya sudahi dulu kalau begitu. Wassalam.

Komentar